Misteri di Balik Perban
4 sekawan masuk kelas dari luar bawa
tas, salim sama bu wiwin, sambil bilang “maaf bu terlambat” langsung ke depan
duduk di kursi depan, naruh tas. Waktu tas udah di taruh dika berdiri trus jadi
narrator.
Dika : “Hari ini, seperti biasa, aku dan kawan2ku
terlambat masuk sekolah, bahkan guru2 pun sudah bosan mengingatkan kami agar
tidak terlambat. Tetapi walau kami terlambat kami selalu mendapatkan jatah
kursi paling depan. Teman2 sekelas kami tidak ada yang berani menempati kursi
kami, karena siapa berani menempati kursi kami bisa dibilang kehidupannya di kelas
tidak akan tenang. Kami di kelas cukup terkenal sebagai pembuat onar dan
penyebab ketidak kompakan kelas. Biasanya, dikelas kami melakukan berbagai hal
tidak patut dicontoh, seperti, mencoret2 dan menggambar2 papan tulis saat
pelajaran”
(4 sekawan mbikin gambar2 di depan)…
“Duduk diatas meja”
(4 sekawan duduk2
diatas meja seenaknya, dika ngomong sambil melakukan kegiatan bersama 4 sekawan )…
“sambil main kartu”
(4 sekawan main
kartu)…
“ada yang mainan HP”
(Aas + dakris main
HP)…
“sambil merokok”
(4 sekawan ngluarin
rokok2an, pura2 ngerokok)…
“kadang juga sambil mabuk”
(ngeluarin 1 botol
aqua isi air biasa, di minum bergilir)
“tetapi mulai hari ini hidup kami
berubah semenjak ada siswa baru yang secara misterius memasuki kelas kami”
(bayu as ditto masuk berdiri didepan kelas, 4 sekawan duduk
di kursi masing2, lalu ditto memperkenalkan diri sambil dilempari kertas sama 4
sekawan yang nyorak2i sambil ngganggu)
Bayu :
“perkenalkan nama saya ditto, saya siswa baru, saya pindahan dari SMA Negri 666
desa Tigaangkaenam, alasan saya di pindahkan ke sini, rahasia, tempat dan
tanggal lahir rahasia, hobi rahasia, nama orang tua rahasia, makanan dan
minuman faforit rahasia… cukup”
(ditto duduk di kursi yang kosong)
Dika :
“lalu setelah beberapa jam, kami pun pulang”
(4 sekawan dan ditto keluar kelas mbawa tas, selot beberapa
detik dika masuk lagi jadi narrator lagi)
Dika :
“keesokan harinya, ditto yang datang ke kelas tepat waktu menempati tempat
duduk keramat kami, 4sekawan”
(bayu masuk, duduk di tempat duduk keramat)
Dika :
“lalu kami yang datang terlambat pun terkejut”
(4 sekawan masuk, bareng2 salim sama bu wiwin sambil bilang
“maaf bu telat”, menuju ke bangku keramat, mengerubungi bayu)
Dika :
“kamu tau nggak ini tempat duduk siapa?”
Alan :
“kamu cari gara2?”
Aas :
“minta di hajar kamu?”
Dakris : “hmmmh” (ngancem)
Bayu :
“terserah”
(lalu 4 sekawan pergi sambil nyawang bayu raenak, menempati
kursi yang kosong)
Dika :
“hari itu karena dendam dengan ditto, kami pun membuat hidup ditto tidak
nyaman, dari melempari ditto dengan kertas”
(bayu dilempari kertas)
“menempeli punggung ditto dengan
tulisan ‘tampar aku’”
(Dakris maju nempel punggung bayu dengan kertas bertuliskan
‘tampar aku’, 4 sekawan maju nampari bayu, tapi bayu diem aja)
“buang angin di depan ditto”
(dakris berdiri di depan bayu sambil pura2 kentut)
“dan main domikado”
(4 sekawan main domikado mengelilingi ditto)
Sambil main domikado dika ngomong “dan sampai akhirnya ditto pun berkata”
Dito :
“stoop!!!”
(4 sekawan pause motion, bayu berdiri menghadap penonton)
Dito :
“lihat besok akan ada seorang guru baru yang merubah hidup kalian”
(bayu duduk lagi, 4 sekawan domikado lagi)
Dika :
“kami tidak peduli dan terus main domikado, sampai akhirnya bel pulang
berbunyi”
(sfx bel pulang oleh Brian, 4 sekawan dan Bayu keluar kelas,
selot beberapa detik dika masuk lagi)
Dika :
“keesokan harinya ditto kapok dan duduk di bangku lain”
(bayu masuk, duduk di bangku yang tidak keramat)
Dika :
“dan untuk pertama kalinya, 4 sekawan masuk kelas sebelum guru masuk”
(4 sekawan masuk duduk di kursi biasa)
Dika :
“dan benar kata ditto, kami kedatangan guru baru”
(dika duduk, Brian as pak guru masuk, 4 sekawan duduk dengan
kaki di atas meja semua)
Eliya : “tempat duduk siap grak, beri salam”
4skwn : “slamat tidur pak!!” (dan kata2 nyleneh lainnya)
(Brian menerawang2 kaya paranormal, keliling kelas, lalu
berhenti pada 4 sekawan)
Brian : “kalian berempat maju”
(4 sekawan maju sambil sawangannya ga enak, Brian ngambil
kertas absen)
Brian : “pasti kalian yang kerap dibicarakan itu, Tono Surtono M angkat
tangan!!
Alan :
“ampun pak” (angkat tangan kaya mau ditembak polisi)
Brian : “namamu itu boros banget, udah Tono masi di kasi Surtono.. M nya
apa?
Alan :
“Martono pak”
Brian : “kamu pasti dipanggil Tono?”
Alan :
“bukan pak, saya di panggil Alan, ya iyalah pak,, udah jelas2 namanya gitu pake
nanya segala”
Brian : “cukup! Gausah nantang kamu.. selanjutnya Toni Martoni S..”
Dika :
“Saya pak”
Brian : “ini pasti S nya surtoni”
Dika :
“bukan pak, Sadiqin”
Brian : “ya ya ya,, berikutnya Ahong!, pasti kamu ya yang namanya ahong?”
Dakris : (gedek2)
Aas :
“saya pak”
Brian : “kamu cina dari mananya”
Aas :
“namanya pak”
Brian : “nama panjang mu sapa?”
Aas :
“Ahong pak”
Brian : “sabar yo hong, teruss, Thomas Martinus Van S,, kamu keturunan
Belanda ya?”
Dakris : “bukan,, beta dari kupang”
Brian : “lha ini kok ada Van nya?”
Dakris : “soalnya ayah beta punya cita2 jadi orang belanda sonde perna kesampean”
Brian : “tapi kamu kupang dari mananya?”
Dakris : “dari namanya, Thomas Martinus Van Sasando”
Brian : “ya sudah sekarang kalian duduk!!”
(4sekawan duduk)
Brian : “sekarang kita mulai pelajarannya, saya di sini akan mengajar kalian
setiap hari dari jam pertama sampai jam terakhir selama 1bulan untuk masa
percobaan saya, tenang saja saya Profesor Doktor Insintyur Brian Spd, Mpd ahli
dalam semua jenis bidang mata pelajaran.. Pelajaran pertama kita adalah
pelajaran ekonomi”
Alan :
“tapi kita ini kelas IPA pak”
Brian : “nggak usah ngeyel kamu!!” (nglempar penghapus)
Alan :
“siap pak!”
Brian : “kita akan mengawali pelajaran ekonomi kita dengan fungsi uang,
siapa yang tau fungsi uang?”
Aas :
“kita bukan anak smp pak, itu pelajaran smp, fungsi uang adalah sebagai alat
tukar yang sah”
Brian : “emang SMP mu dimana?”
Aas :
“SMP negri 0.5 salatiga pak”
Brian : “berarti SMP mu itu mengajarkan hal sesat!! Uang itu berfungsi
supaya kita mau sekolah dan bekerja, coba kalo hidup ga perlu duit, mana mau
kamu sekolah, mana mau saya mengajar, ujung2nya juga saya ngajar buat cari
duit, kalian sekolah juga buat nanti nya cari duit.”
Aas :
“bapak SMP nya mana sih?”
Brian : “ini juga fungsi duit, saya yang lulusan SD aja karena duit bisa
dapet gelar banyak”
Aas :
“dasar sesat!”
Brian : “nggak usah ngeyel!!” (nglempar spidol) “sekarang saya punya
pertanyaan, kalau suatu barang harga satuannya 900 rupiah, berapa harganya
kalau beli 2?”
Aas :
“itu kan pelajaran SD pak, jawabannya 1800 rupiah”
Brian : “terus kalau punya uang 5000 kita bakal dapet berapa?”
Aas :
“ya 5 dong pak”
Dakris : “sonde, diwarung bu Yanto rokok 1 harganya 900, kalo punya 5000
dapat 6 batang”
Brian : “salah semua, ya nggak dapet apa2”
Dakris : “ko bias?”
Brian : “orang gak jadi beli”
4skwn : “huuuuuuuuuuuuu”
Brian : “nggak usah ngeyel” (ngelempar sepatu)
(pause motion, dika berdiri jadi narrator lagi)
Dika :
“Lalu bel istirahat pun berbunyi”
(Brian balik badan trus sfx bel istirahat, 4 sekawan
berdiri, ditto menghampiri 4 sekawan)
Ditto : “heh kalian, akan saya beri tahu suatu rahasia, bagi kalian yang
bisa melihat apa isi perban di tangan pak Brian, maka kalian akan mendapatkan
suatu hal yang sangat berharga”
(lalu ditto pun pergi)
Dakris : “itu orang sonde normal”
Dika :
“tapi boleh juga itu, gimana kalo kita taruhan”
Alan :
“oke aku mudeng”
Aas :
“pasti soal ngeliat daleman perbannya pak guru, gampang”
Dakris : “beta ikut”
(4 sekawan keluar kecuali dika)
Dika :
“ke esokan harinya di dalam kelas kami mencoba membuka perban pak Brian,
dimulai dari Aas”
(4 sekawan dan Brian masuk)
Aas :
“pak Brian ayo kita taruhan!”
Brian : “taruhan itu tidak baik!” (mau nulis dipapan tulis, ga jadi)
“emang apa taruhannya?”
Aas :
“kalau bapak sampai ngeluarin kata2 yang saru, bapak harus kasi liat daleman
tangannya bapak”
Brian : “apa untungnya buat saya?”
Aas :
“kalau sampai istirahat bapak ga ngomong saru, saya kasih ini” (nunjukin HP nya
ke Brian)
Brian : “wah biru2 bisa ini, oke saya terima tantangan kamu”
Aas :
“ni pak saya punya tebak2an, ini gambar apa?” (nggambar sperma)
Brian : “cebong”
Aas :
“lainnya?”
Brian : “berudu”
Aas :
“yang warnanya putih?”
Brian : “berudu albino”
Aas :
“yang ngeluarin cebong namanya?”
Brian : “kodok”
Aas :
“yang panjang2?”
Brian : “lidah kodok”
Aas :
“yang kemasukan cebong?”
Brian : “kolam cebong”
Aas :
“punya wanita”
Brian : “kolam cebongnya mbak saya”
Aas :
“mbok saru to pak”
Brian : “gak mau, saya mau yang biru2 di HP km”
Aas :
“emang biru2 apa pak?”
Brian : “Itu lho video anjing di layar biru”
Aas :
“oh, pantesan, kirain bokep”
Brian : “kalo kamu yang omongannya saru saya apain?”
Aas :
“emang saya ngomong apa pak?”
Brian : “tadi kamu ngomong bokep”
Aas :
“lha itu bapak omongannya saru!!”
Brian : (diemm)….. “Kita mulai saja pelajaran kita hari ini…”
Aas :
(potong) “mana pak kasi liat dulu daleman tangan bapak!!”
Brian : “hmmmm… yaudah tapi jangan nyesel kamu, saya kasi liat di luar
aja”
(berdua keluar,, beberapa detik kemudian yang masuk cuma Brian)
Brian : “kita lanjutkan kembali pelajaran kita…”
Dika :
“lho ahong kemana pak?”
Brian : “rahasia” (dengan kata2 dan ekspresi misterius)
(sambil Brian nulis2 di depan, dika menjadi narrator)
Dika :
“entah kenapa, Ahong menghilang setelah melihat isi perban pak Brian, lalu saat
bel istirahat kami, 4 sekawan pun berunding”
(Brian sfx bel istirahat, Brian keluar kelas, 4sekawan
kumpul)
Dakris : “kawan, beta ngerasa ada yang aneh”
Alan :
“aneh apa, biasa aja, besok liat aku yang melakukan”
Dika :
“oke deh, aku lihat nyali mu”
Dakris : “tapi beta ngerasa ga enak, masa lu sonde? Apa beta sa?”
Alan :
“kamu ngomong apa?”
(pause motion kecuali dika)
Dika :
“saat bel pulang, Ditto untuk pertama kali menampakan ekspresinya”
(bel pulang oleh Brian, 4 sekawan keluar, bayu kedepan kelas
nunjukin ekspresi nyengir licik ke penonton trus keluar, beberapa detik
kemudian dika masuk)
Dika :
“keesokan harinya giliran Tono yang melancarkan jurus nya untuk melihat perban
pak Brian”
(semua masuk dan duduk, pak Brian nyusul)
Alan :
“pak, kok keliatan ga sehat?”
Brian : “ga usah sok tau kamu!” (ngelempar penghapus)
Alan :
“saya serius pak, muka bapak keliatan lebih ijo”
Brian : “saya tidak peduli!” (Sambil nulis di papan tulis soal pelajaran)
Alan :
“dulu anjing saya juga pernah kaya gitu pak”
Brian : “saya bukan anjing!” (terus menulis)
Alan :
“dulu anjing saya muka nya keliatan lebih ijo, lebih panjang, bulu matanya
lebih lentik, rambutnya keliatan ndeso, persis kaya bapak gini, terus keesokan
harinya mati pak”
Brian : “sudah saya bilang jangan ngeyel saya bukan an.. eh td kamu
bilang mati?”
Alan :
“mati nya sadis pak, isi perutnya keluar semua dari mulut”
Brian : “waduh, ada obatnya ga?”
Alan :
“ada pak, pake ini” (ngasi liat koyo/salonplas)
Brian : “yaudah mana”
Alan :
“tapi syaratnya harus di tempel di tangan kiri”
Brian : “mana biar saya temple sendiri”
Alan :
“syarat satu lagi harus saya yang nempelin”
Brian : “ah kamu itu gak usah maen2!!!”
Alan :
“nggak uasah ngeyel?! Daripada bapak buang hajat lewat mulut sampe mati?”
Brian : “wah, yauda deh, diluar aja tapi”
(berdua pun keluar, let beberapa detik yang mbalik cuma Brian)
Dakris : “teman beta mana pak?”
Brian : “rahasia” (sambil liat penonton, trus pause)
(dika berdiri jadi narator)
Dika :
“dan lagi2 hal yang sama terulang kembali, begitu pun saat pulang sekolah”
(Brian sfx bel pulang, semua keluar, ditto ngeri sambil
senyum kaya yang sebelumnya, letbeberapa detik dakris dan dika masuk)
Dika :
“keesokan harinya saya berunding dengan Thomas,,, tom gimana nih temen kita 2
udah ilang, kamu mau lanjut?”
Dakris : “Tenang, beta udah ada rencana, lu diam sa”
Dika :
“dan kemudian pak Brian masuk, Thomas pun menjalankan aksinya”
(Thomas berdiri mengeluarkan pisau besar dari tangannya)
Dakris : “ini yang harusnya beta lakukan dari kemarin2!!”
Brian : “ah ampun, jangan ambil nyawa saya”
Dakris : “mana tangan lu?! Pilih tangan apa nyawa?”
Brian : “nyawa!”
Dakris : “sialan, pilih tangan apa itu?!” (nunjuk alat kelamin)
Brian : “tangan” (sambil nyerahin tangan kirinya, mata Brian ditutup)
Dika :
“mau apa kamu?! Jangan potong tangannya!”
Dakris : “beta Cuma mau potong perbannya”
Brian : “diluar sa” (logat kupang)
(Brian dan dakris keluar, ada sfx kesakitan dan suara
berisik dari luar, let beberapa detik tenang, Brian masuk)
Dika :
“lagi2, teman saya mana pak?”
Brian : “rahasia”
Dika :
“oo kalo sampe rahasia2an lagi, saya sebarin foto telanjang bapak waktu di
kalitaman”
Brian : “oh, jangan! Ampun.. teman2 kamu sekarang sedang menikmati tempat
yang jauh lebih menyenangkan dari tempat dimana kita berada sekarang”
Dika :
“kok bisa?”
Brian : “setelah mereka melihat daleman perban saya”
Dika :
“sebenarnya bapak siapa? Isi perban bapak itu apa?”
Brian : “saya itu keponakannya om saya, dan isi perban saya… mau tau?”
Dika :
“YA”
Brian : “tapi jangan menyesal”
Dika :
“YA”
Brian : “yakin”
Dika :
“IYA, udah dibilang, nggak usah ngeyel kamu..”
Brian : “isinya ini”
(dibuka lah perban itu)
Dika :
“boleh mbolos saat pelajaran saya?!! Tau gitu dari kemaren2 ga usah sekolah!”
(keluar)
Brian : “yaudah ikut keluar deh” (keluar)
Ditto : (ke depan kelas sambil senyum misterius lagi terus keluar)
Dika :
(masuk lagi) “demikian kisah saya sebagai Toni, terima kasih.
Lalu siapakah
DITO….?”
